Good News

 SediaQQ

Tampilkan postingan dengan label Tips Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Februari 2020

Pria Cenderung Lebih Mudah Terserang Flu Jika Dibandingkan Dengan Wanita

Pria Cenderung Lebih Mudah Terserang Flu Jika Dibandingkan Dengan Wanita

Penyakit flu adalah sejenis penyakit yang cukup rentan menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin atau bahkan usia. Namun, menurut sebuah penelitian terbaru, ditemukan fakta unik dimana pria ternyata cenderung lebih mudah terserang flu jika dibandingkan dengan pria. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan pakar kesehatan. Sebagai contoh, pakar kesehatan dr. Sabra Kelin dari Johns Hopkins School of Public Health menyebutkan jika pria yang cenderung memiliki hormon testosteron yang cukup tinggi ternyata ikut menentukan mudahnya Ia terkena flu. Memang, hormon testosteron ini bisa menyebabkan pria cenderung lebih kuat secara fisik, namun adanya hormon ini juga akan membuatnya lebih mudah terserang infeksi mengingat hormon ini akan menekan beberapa fungsi dari sel-sel yang ikut berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh.
Penelitian lain yang dilakukan di Cambridge University juga menyebutkan jika sistem kekebalan tubuh pria akan lebih lemah jika dibandingkan dengan yang dimiliki oleh kaum hawa mengingat pria memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang lebih beresiko layaknya berpetualang atau bahkan sekadar berkelahi dengan orang lain.

Dengan adanya kecenderungan lebih mudah terinfeksi penyakit layaknya flu, apakah ada cara agar pria bisa membuat sistem kekebalan tubuhnya menjadi lebih baik? jurnal Medicine & Science in Sports & Exercise menyebutkan jika pria bisa mulai melakukan olahraga selama 60 hingga 80 menit setiap minggunya. Dengan rutin melakukan olahraga, meskipun dengan intensitas yang cukup ringan, ternyata pria bisa mengurangi resiko terkena infeksi saluran pernafasan hingga 34 persen sehingga resiko terkena flu pun bisa semakin mengecil. Selain itu, pria juga sebaiknya jauh lebih pandai dalam mengelola stressnya karena stress juga berimbas buruk pada sistem kekebalan tubuh yang dimiliki pria.

Kamis, 27 Februari 2020

5 Kondisi yang Membuat Vagina Hilang Kerapatan (Ada Solusinya Juga!)

5 Kondisi yang Membuat Vagina Hilang Kerapatan (Ada Solusinya Juga!)

Hampir semua wanita beranggapan kalau memiliki vagina dengan kerapatan yang cukup kuat akan membuat mereka percaya diri saat seks. Dengan memiliki vagina sempit, wanita akan mendapatkan seks yang hebat. Selain itu, pasangan juga akan puas saat melakukan seks sehingga lebih sayang dengan pasangannya.

Penyebab Kerapatan Vagina Mengalami Perubahan

Sebenarnya kerapatan vagina tidak selalu membuat pria dan wanita bisa menikmati seks dengan maksimal. Terkadang pria dan wanita justru merasa tidak nyaman karena vagina terlalu sempit dan menyebabkan rasa sakit. Masalah lain dari kerapatan adalah mulai mengendurnya otot di vagina. Berikut kondisi yang membuat kerapatan vagina berubah.
  1. Adanya Perubahan Hormon pada Tubuh

Setiap siklus menstruasi wanita akan mengalami perubahan pada hormon di tubuhnya. Perubahan ini menyebabkan vagina menjadi lebih elastis, lembut, atau lebih kaku dan sedikit sempit. Jadi, wanita tidak perlu khawatir kalau pasangan mengatakan kalau vaginanya memiliki rasa yang berbeda saat melakukan seks.
Saat wanita mendekati masa ovulasi dan terjadi perubahan hormon di dalam tubuh, area serviks hingga ke bawah menjadi lebih lembab dan elastis. Saat inilah seks paling cocok dilakukan. Sementara itu saat ovulasi selesai, vagina akan sedikit elastis, lebih kering, dan sempit sehingga wanita bisa merasakan sakit saat seks.
  1. Mengalami Persalinan dan Sedang Menyusui

Saat melakukan persalinan wanita akan mengalami pembesaran ukuran dari bukaan vagina. Hal ini terjadi karena bayi yang keluar membutuhkan ruang yang besar. Pembesaran ini terkadang masih menyisakan luka robekan di perineum sehingga wanita kerap merasakan sakit dan kerapatan vagina jadi rendah. Kondisi ini biasanya kembali setelah beberapa bulan.
Saat menyusui bayi yang baru saja dilahirkan, wanita juga akan mengalami perubahan hormon yang signifikan. Perubahan ini menyebabkan vagina menjadi lebih kering meski wanita sudah dirangsang. Vagina yang kering ini juga terasa lebih sempit sehingga pria dan wanita merasa sedikit tidak nyaman.
  1. Mengalami Kehamilan

Saat mengalami kehamilan, area rahim akan membesar seiring dengan berjalannya waktu. Pembesaran ini menyebabkan area vagina menjadi sakit tertekan dan akhirnya menjadi sempit. Saat pria melakukan penetrasi, penis akan merasa tekanan dari vagina menjadi meningkat.
Meski vagina menjadi lebih sempit, cairan lubrikasi atau pelumas yang dihasilkan cukup banyak. Itulah kenapa seks yang dilakukan cukup lancar. Bahkan, wanita bisa dengan mudah mendapatkan orgasme meski dengan hamil.
  1. Mengalami Stres Berlebihan

Saat mengalami stres yang terlalu kuat, wanita akan malas melakukan seks. Meski sudah dirangsang pun mereka tidak akan menghasilkan cairan lubrikasi dalam jumlah banyak. Saat penetrasi dilakukan, vagina akan menjadi lebih sempit dari biasanya sehingga perasaan tidak nyaman akan terjadi.
Stres yang diikuti rasa cemas juga menyebabkan wanita mengalami vaginismus. Kondisi ini membuat otot vagina mengkerut saat dimasuki benda. Dampak dari hal ini adalah penis tidak bisa masuk dan seks tidak bisa dilakukan dengan lancar.
  1. Aktivitas Seks yang Pernah Dilakukan

Aktivitas seks yang dilakukan oleh pasangan menentukan sendiri apakah vaginanya menjadi lebih rapat atau lebih longgar. Biasanya wanita yang mengalami rangsangan maksimal bisa memiliki vagina yang lebih elastis dan lembut. Seks paling cocok dilakukan pada situasi ini.
Kalau foreplay tidak bisa dilakukan dengan maksimal, ada kemungkinan vagina mengalami gangguan kerapatan dan sering merasakan sakit saat penetrasi terjadi.

Cara Mengembalikan Kerapatan Vagina

Kerapatan vagina berhubungan erat dengan kekuatan otot yang ada di area itu dan panggul. Kalau sampai kekuatan ototnya anjlok, vagina tidak akan memiliki cengkraman yang kuat. Selain itu seorang wanita dengan otot panggul lemah bisa mengalami ngompol, anyang-anyangan, dan sering nyeri saat seks.
Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan melatih otot panggul lagi agar kembali kuat. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.
  1. Latihan Kegel

Latihan kegel adalah latihan yang dilakukan untuk membuat otot pelvic menjadi lebih kuat. Latihan bisa dilakukan dengan cara menahan pipis berkali-kali lalu melepasnya. Otot yang digunakan untuk menahan pipis itu harus dilatih agar kuat agar cengkraman vagina kembali.
Latihan bisa dilakukan 3 kali sesi dalam sehari. Satu sesi butuh sekitar 5-10 kali menahan pipis. Lakukan latihan ini sesuai dengan kebutuhan.
  1. Pelvic Tilt Exercises

Latihan ini dilakukan dengan tidur terlentang lalu kaki ditekuk. Selanjutnya bagian kaki dan tangan yang ada di lantai menjadi tumpuan dan bagian panggul diangkat ke atas selama beberapa kali. Lakukan latihan ini 2 kali sehari secara rutin.
  1. Neuromuscular Electrical Stimulation (NMES)

Cara terakhir yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kekuatan dari otot pelvis adalah dengan NMES. Neuromuscular Electrical Stimulation merupakan alat yang digunakan untuk mengirim aliran listrik kekuatan kecil yang akan memberikan relaksasi pada otot dan mengembalikan kekuatannya.
Metode ini bisa dilakukan sendiri atau dengan bantuan tenaga medis. Umumnya satu kali terapi membutuhkan waktu sekitar 20 menit.
Inilah beberapa hal yang menyebabkan perubahan kerapatan dari vagina. Dari lima hal di atas, mana saja yang pernah Anda alami? Semoga setelah ini Anda dan pasangan tidak mengalami masalah lagi dalam hal seks dan kerapatan vagina, ya!.

Rabu, 26 Februari 2020

Baby Blues Syndrome: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dll

Baby Blues Syndrome: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dll

Perasaan senang saat menanti-nanti kelahiran sang buah hati, ternyata pada sebagian ibu bisa berubah menjadi depresi, setelah melewati proses kelahiran bayi. Kondisi ini bisa kita sebut baby blues syndrome atau orang menyebutnya baby blues. Kondisi ini masih tergolong ringan dan biasanya berlangsung hingga dua minggu.

Selengkapnya mari kita ketahui penyebab sindrom baby blues syndrome , gejala, hingga cara mengatasinya!

Apa Itu Baby Blues Syndrome?

Baby blues syndrome adalah perubahan suasana hati ringan, kecemasan, perasaan sedih, gundah dan kelelahan yang sering terjadi setelah melahirkan.
Gejala mental dan fisik dari kondisi ini memengaruhi sekitar 70-80% ibu dan biasanya terjadi 1-2 hari setelah melahirkan. Kondisi yang dapat terjadi pada setiap ibu yang baru pertama kali melahirkan, bahkan pada ibu yang sudah pernah melahirkan sebelumnya tanpa gejala baby blues syndrome.
Merasa tidak enak atau ketidaknyamanan setelah melahirkan adalah kondisi yang wajar. Tidak hanya ibu baru yang belajar mengatasi kurang tidur, tanggung jawab baru, dan pemulihan, tetapi ia juga mengalami perubahan hormon yang sangat besar.
Setelah persalinan, hormon estrogen dan progesteron pada ibu menurun, yang dapat menyebabkan ketidakstabilan emosi. Kebanyakan ibu menggambarkan baby blues syndromesebagai perasaan seperti PMS (premenstrual syndrome).

Apa Penyebab Baby Blues Syndrome?

Penyebab pasti tidak diketahui hingga saat ini. Namun, diperkirakan terkait dengan perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dan setelah kelahiran bayi. Perubahan hormon ini dapat menghasilkan perubahan kimiawi di otak yang menyebabkan depresi.
Juga, sejumlah penyesuaian yang terjadi setelah kelahiran bayi, bersama dengan gangguan tidur, dan emosi dari pengalaman persalinan itu sendiri, ini semua dapat memengaruhi perasaan ibu.

Gejala Baby Blues Syndrome

Sejumlah gejala baby blues syndrome yang bisa Bunda kenali di antaranya:
  • Menangis tanpa sebab yang jelas
  • Perubahan suasana hati
  • Mudah marah
  • Mudah gelisah
  • Tidak sabar
  • Insomnia
  • Gelisah
  • Cemas
  • Lelah
  • Enggan memerhatikan si kecil
  • Tidak percaya diri
  • Sulit beristirahat dengan tenang
  • Konsentrasi yang buruk
Jika setelah melahirkan Anda mengalami berbagai kondisi dan perasaan di atas, maka besar kemungkinan Anda sedang dilanda sindrom baby blues syndrome.

Berapa Lama Baby Blues Bertahan?

Gejala baby blues syndrome adalah kondisi yang biasanya terjadi selama beberapa menit hingga beberapa jam setiap hari. Gejala-gejala ini akan berkurang dan menghilang dalam waktu 14 hari setelah melahirkan.

Apa Perbedaan Baby Blues Syndrome dengan Postpartum Depression?

Perbedaan keduanya terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejala-gejala di atas. Pada postpartum depression (PPD), Anda akan merasakan berbagai gejala tersebut lebih sering, lebih hebat, serta lebih lama.
Jika Bunda mengalami baby blues syndrome lebih dari dua minggu, bisa jadi itu adalah PPD dan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter Anda.

Bagaimana Cara Membedakannya?

Sebenarnya caranya mudah, salah satunya adalah dengan memerhatikan pola tidur Bunda. Jika saat ada orang lain yang menjaga bayi, Bunda bisa tertidur, maka besar kemungkinan hanya menderita gangguan setelah persalinan. Namun jika sangat sulit tertidur walaupun bayinya dijaga oleh orang lain, maka mungkin tingkat depresinya sudah termasuk ke dalam PPD.
Apa Penyebab PPD?
Meskipun hingga artikel ini ditulis tidak ada yang tahu pasti penyebab timbulnya PPD, namun berbagai faktor berikut sepertinya sangat berpengaruh:
  • Perubahan hormon ibu
  • Tekanan menjadi ibu
  • Memiliki riwayat keluarga depresi
  • Kurangnya bantuan ketika melahirkan
  • Merasa terisolasi
  • Kelelahan
Gejala PPD
Gejala PPD mirip dengan baby blues syndrome, berikut di antaranya:
  • Mudah marah
  • Bingung
  • Mudah panik
  • Merasa putus asa
  • Perubahan pola makan dan tidur
  • Ada perasaan takut bisa menyakiti bayinya
  • Ada perasaan khawatir tidak bisa merawat bayinya dengan baik
  • Timbul perasaan bahwa ia tidak bisa menjadi ibu yang baik
PPD bisa berlangsung hingga 1 tahun setelah kelahiran bayi. Pada kasus PPD akut, mungkin ibu bisa saja bunuh diri atau menyakiti bayinya sendiri.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda merasa tertekan setelah kelahiran bayi, Anda mungkin enggan atau malu untuk mengakuinya. Tetapi jika mengalami gejala baby blues syndrome atau PPD, hubungi dokter atau jadwalkan janji temu. Jika memiliki gejala yang menunjukkan bahwa Anda mungkin menderita postpartum psychosis, segera cari bantuan.
Sesegera mungkin hubungi dokter jika Anda mengalami tanda-tanda dan gejala depresi berikut:
  • Gejala berlangsung dua minggu setelah melahirkan.
  • Gejala makin memburuk.
  • Menjadi sulit merawat bayi.
  • Menjadi sulit untuk menyelesaikan tugas sehari-hari.
  • Memiliki pemikiran untuk melukai diri sendiri atau bayi Anda.

Tips Sebelum Persalinan

Berikut beberapa tips yang berkaitan dengan baby blue syndrome sebelum proses melahirkan:
  • Meminta bantuan dan dukungan keluarga besar sebelum melahirkan.
  • Bunda harus banyak membaca tentang pengetahuan perawatan bayi.
  • Siapkan mental dengan bertukar pikiran, memperbanyak pengetahuan medis dan memperbanyak ibadah.

Cara Mengatasi Baby Blues Syndrome

Setelah proses melahirkan dan Bunda mengalami gejala sindrom blues syndrome, maka beberapa tips berikut dapat dilakukan untuk mengatasinya:
  • Meminta bantuan keluarga besar untuk mengurus sang bayi.
  • Perbanyak istirahat dengan tidur.
  • Curahkan perasaan pada orang yang bunda percayai, suami, atau keluarga.
  • Memanfaatkan waktu untuk relaksasi.
  • Menjaga pola makan sehat. Memiliki bayi dapat menyebabkan Bunda tidak makan dengan benar, dan terlalu banyak karbohidrat dapat membuat perubahan mood menjadi lebih tampak.
  • Buat catatan tentang semua pikiran dan perasaan Bunda.
  • Sempatkan keluar untuk menikmati udara segar. Terkadang melihat pemandangan yang berbeda untuk beberapa saat dapat membuat perbedaan besar.
  • Melakukan skin-to-skin atau kontak kulit ke kulit ketika bayi baru lahir. Journal of Obstetric, Gynecologic, & Neonatal Nursing menemukan bahwa ibu yang melakukan kontak kulit ke kulit dengan bayi selama enam jam pada minggu pertama melaporkan lebih sedikit perilaku depresi. Terlebih lagi, mereka yang melakukan kontak kulit ke kulit selama tiga jam sehari dapat mengurangi bayi menangis hingga 43 persen.
  • Jangan mengharapkan pulih total dalam beberapa minggu pertama setelah persalinan. Beri diri Anda waktu untuk proses pemulihan, untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru menjadi seorang ibu, dan untuk rutinitas makan dan tidur.
Penting untuk diingat bahwa Bunda tidak sendirian merasakan baby blues, banyak juga yang mengalami hal yang sama.

Selasa, 25 Februari 2020

Sebelum Melakukan Oral Seks, Pastikan Anda Tidak Terkena Flu

Sebelum Melakukan Oral Seks, Pastikan Anda Tidak Terkena Flu

Meskipun dianggap sebagai penyakit yang ringan, dalam realitanya flu bisa mengganggu aktifitas kita sehari-hari. Menurut pakar kesehatan, flu bahkan bisa mengganggu aktifitas seksual kita. Andai kita ingin melakukan oral seks dengan pasangan, ada baiknya kita tidak melakukannya terlebih dahulu saat terkena flu karena bisa membuat kita beresiko terkena berbagai penyakit yang lebih berbahaya.

Pakar kesehatan yang berasal dari Departemen Obstetri dan Ginekologi yang ada di NYU Langone Medical Center di kota New York, Amerika Serikat, bernama Shree Chanchani menyebutkan bahwa mereka yang melakukan oral seks saat flu akan lebih beresiko tertular virus herpes simpleks berupa HSV-1 dan HSV-2. Biasanya virus HSV-1 disebut sebagai virus bertipe oral karena bisa memicu luka pada mulut. Sementara itu, virus HSV-2 bisa menyebabkan herpes pada alat kelamin. Herpes sendiri memang termasuk dalam penyakit yang bisa menular secara seksual. Tak hanya saat melakukan oral seks, berbagai jenis hubungan intim layaknya penetrasi vaginal, oral seks, hingga anal seks bisa memicu penularan virus ini.
Mengapa virus herpes ini bisa lebih mudah menular saat kita melakukan oral seks dalam keadaan terkena flu? Saat terkena flu, kondisi sistem kekebalan tubuh tidak dalam kondisi yang prima sehingga virus tentu akan lebih mudah masuk ke dalam tubuh dan memicu masalah kesehatan.
Pakar kesehatan menyarankan kita untuk tidak melakukan oral seks terlebih dahulu andai kita masih terkena flu dan menunggu hingga benar-benar sembuh. Hanya saja, andai kita sudah sangat ingin melakukannya, pastikan untuk menggunakan kondom. Tak hanya itu, ada baiknya kita menghindari ciuman dengan pasangan, berbagi peralatan makan dan minum, atau saling menyuapi saat terkena flu. Agar lebih cepat sembuh dari flu, pastikan untuk memperbanyak waktu istirahat, sering mencuci tangan, hingga menghindari berbagai hal yang bisa memicu stress.

Minggu, 23 Februari 2020

Kondom Biasa dan Rasa, Mana yang Lebih Aman untuk Seks?

Kondom Biasa dan Rasa, Mana yang Lebih Aman untuk Seks?

Hadirnya kondom dalam dunia seks memang sangat membantu. Selain digunakan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, kondom juga bisa mencegah penyakit menular seksual. Kondom juga mudah didapatkan di mana saja dan harganya relatif murah serta mudah digunakan.

Kesalahan Memilih Kondom

Seiring dengan berkembangnya industri kondom yang ada di seluruh dunia. Alat ini mulai berkembang dari waktu ke waktu. Kondom juga memiliki banyak pilihan tekstur pada permukaan untuk memberikan rasa nikmat yang besar pada wanita. Selanjutnya, kondom juga memiliki warna dan rasa tertentu.
Sayangnya tidak semua orang khususnya pria memahami jenis kondom yang mereka gunakan. Kadang kondom yang digunakan salah atau tidak sesuai dengan tujuannya. Nah, pada pembahasan ini kita akan menjabarkan tentang jenis kondom dan boleh atau tidaknya kondom dengan rasa tertentu digunakan untuk seks.

Mengapa Ada Kondom dengan Rasa?

Anda mungkin berpikir kalau semua kondom yang diciptakan digunakan untuk melakukan seks vaginal atau anal. Kalau kondom digunakan untuk seks jenis itu, pemberian rasa sepertinya tidak perlu dilakukan. Toh, wanita tidak akan merasakan manis kalau kondom mengenai vagina.
Kondom dengan penambahan rasa tertentu dan cenderung manis ini lebih banyak diciptakan untuk seks oral. Selama ini wanita banyak yang enggan memberikan seks oral pada pasangan karena merasa tidak tahan dengan rasa dan juga merasa jijik. Dengan menggunakan kondom ini, mereka bisa melakukan seks oral tanpa merasa memakan karet.
Perasa yang digunakan di kondom biasanya terdiri dari aneka buah dan mint. Dengan rasa ini seks oral bisa dilakukan dengan aman dan juga tidak menyebabkan mual. Nah, karena kondom ini diciptakan untuk seks oral, maka akan sedikit kurang pas kalau digunakan untuk seks vaginal atau mungkin anal.
Kalau Anda dan pasangan ingin melakukan seks dengan santai tanpa harus melakukan penetrasi, kondom ini bisa digunakan kapan saja. Rasa pada kondom akan meminimalkan rasa amis atau tidak enak lain yang mungkin tidak disukai oleh wanita.

Kondom dengan Rasa untuk Seks, Amankah?

Kondom yang memiliki rasa biasanya menambahkan elemen gula buatan di lateks yang digunakan. Dengan campuran ini, wanita akan merasakan manis yang tidak terlalu kuat dan bisa menetralkan rasa tidak nyaman. Meski tidak terlalu manis, kondom tetap mengandung partikel gula.
Kalau pasangan ingin melakukan seks, ada baiknya untuk tidak menggunakan kondom rasa. Pasalnya kondom yang digunakan bisa membuat vagina bagian dalam mengalami iritasi. Gula yang masuk ke dalam vagina bisa mengubah keasaman sehingga flora normal yang ada di dalamnya bisa mati.
Ganti kondom yang akan digunakan untuk penetrasi dengan yang baru dan tidak memiliki rasa dan aroma. Selalu sediakan dua jenis kondom yang sesuai dengan kebutuhan. Kondom dengan rasa juga tidak cocok untuk jenis penetrasi anal karena bisa memicu iritasi juga di dalam sana.
Jangan menggunakan kondom dengan aroma dan rasa untuk penetrasi meski hanya sekali saja. Kalau Anda melakukan itu kemungkinan besar bisa menurunkan kualitas seks. Lebih baik hindari atau tunda melakukan penetrasi untuk sementara waktu.

Tips Memilih Kondom yang Sesuai Kebutuhan

Kondom harus dipilih sesuai dengan kebutuhan, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan. Jangan sampai salah pilih dan membuat aktivitas seks jadi terganggu, ya!
  • Pilih yang sesuai dengan ukuran penis. Jangan pilih yang terlalu kecil atau besar karena bisa tidak nyaman saat dipakai. Kondom yang kecil membuat penis jadi sakit. Sementara itu kondom yang terlalu besar bisa lepas dan tersangkut di vagina. Umumnya kondom yang dijual di Indonesia jenis all size sesuai dengan rata-rata ukuran penis pria lokal.
  • Pilih yang tidak menyebabkan alergi. Beberapa pria dan wanita mengalami alergi dengan lateks sehingga kondom malah melukai vagina dan penis. Untuk mengetahui apakah Anda ada alergi atau tidak, coba di tangan terlebih dahulu. Selanjutnya kalau tidak ada reaksi berarti aman digunakan.
  • Pilih kondom yang cocok dengan pelumas yang Anda gunakan. Kalau pelumas berbahan minyak jangan menggunakan kondom lateks karena mudah robek. Amannya, pilih kondom dan pelumas dengan bahan dasar air.
  • Pilih ketebalan kondom yang sesuai. Beberapa pria yang tidak nyaman dengan kondom tebal bisa memakai yang ekstra tipis. Bagi pria yang kerap mengalami ejakulasi dini, kondom yang tebal mungkin bisa digunakan untuk menambah waktu penetrasi.
  • Pilih yang tidak mengandung spermisida atau zat tambahan lain yang bisa membuat vagina iritasi. Kalau sampai organ ini mengalami iritasi, wanita tidak akan bisa menikmati seks.
  • Pilih yang tanggal kedaluwarsanya panjang. Kalau tanggal kedaluwarsa panjang, Anda bisa menyimpannya dalam waktu lama. Kalau kondom kedaluwarsa digunakan kemungkinan terjadi robek akan besar.
Menurut Anda bagaimana? Masih bolehkan menggunakan kondom dengan rasa khusus untuk seks khususnya seks yang melibatkan penetrasi vaginal dan juga anal? Semoga bisa memberikan tambahan pertimbangan untuk Anda agar seks yang dilakukan tetap nyaman dan juga aman.

Biar Gak Ejakulasi Dini Cobain Tehnik Ini


Biar Gak Ejakulasi Dini Cobain Tehnik Ini
Biar Gak Ejakulasi Dini Cobain Tehnik Ini

Sebuah studi menemukan bahwa rata-rata pria ejakulasi dengan waktu 14 menit 29 detik. Namun, hasil survei online menemukan, lebih dari 50 persen pria hanya bertahan di ranjang selama 10 menit, bahkan kurang dari itu.

Pria pasti akan mengalami ejakulasi dini semasa hidupnya, tapi tentu hal itu bisa dicegah. Pakar seks asal Australia, Nadia Bokody menuturkan, para pria perlu berlatih lebih sering di ranjang untuk bisa bertahan lama.

Sebab, jika ejakulasi dini dibiarkan, bisa membuat kepuasan pasan?an di ranjang menurun. Terlebih, dampaknya bisa memicu konflik dan menurunkan keintiman dengan pasangan. Langkah paling pertama untuk berlatih mencegah ejakulasi dini yaitu dengan mengenali suasana hati atau mood.

"Bicarakan mengenai ketidaknyamanan seksual sebagai prioritas kesehatanmu," kata dia.

Cara mudah lainnya dan juga efektif yaitu dengan fokus pada pola makan. Asupan tepat bisa memengaruhi performa tubuh di ranjang.

"Makanan tinggi magnesium dan zinc dapat membuat Mr. P tahan lebih lama. Beberapa makanan yang bisa dikonsumsi yaitu tiram, yogurt, bayam hingga almond," kata dia.

Terakhir, berlatih dengan teknik mulai dan berhenti yang sebenarnya bisa dikendalikan para pria. Latihan teknik ini bisa membuat insting dan performa di ranjang makin lama dan memanas.

"Pada dasarnya seperti teknik masturbasi, di mana saat Kamu merasa akan mulai ejakulasi, Kamu menghentikannya sementara lalu memulai lagi. Ini melatih penis dan otak untuk menahan waktu klimaks saat tubuhnya mulai mendekati momen itu," terangnya.

SediaQQ

Jumat, 21 Februari 2020

4 Langkah Skincare Malam yang Ampuh Atasi Bekas Jerawat Membandel

4 Langkah Skincare Malam yang Ampuh Atasi Bekas Jerawat Membandel
4 Langkah Skincare Malam yang Ampuh Atasi Bekas Jerawat Membandel

Jika Anda membutuhkan cara optimal untuk menghilangkan bekas jerawat, cobalah merawat wajah dengan
 skincare malam secara rutin. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga kesehatan kulit, serta menghindari pertumbuhan jerawat baru pada area bekas jerawat.
Untuk memaksimalkan rangkaian skincare pada malam hari demi memudarkan bekas jerawat Anda, simak penjelasannya berikut ini.

Skincare malam untuk menghilangkan bekas jerawat

Produk skincare dikatakan bekerja dengan baik ketika dapat mengatasi masalah kelebihan minyak wajah, membersihkan pori-pori wajah, serta membantu penyembuhan bekas jerawat yang meradang.
Tak jarang bekas jerawat menimbulkan noda kehitaman yang dikenal sebagai hiperpigmentasi pasca inflamasi setelah jerawat. Noda yang menetap kerap membuat individu jadi tak percaya diri.
Maka itu, untuk menuntaskan bekas jerawat yang membandel, yuk coba skincare malam di bawah ini secara rutin.

1. Bersihkan makeup

Setelah seharian beraktivitas, wajah bersentuhan begitu lama dengan makeup. Belum lagi ada debu yang menempel di wajah. Saatnya kulit wajah Anda beristirahat sejenak.
Membersihkan makeup dengan cleanser merupakan langkah pertama penerapan skincare untuk menghilangkan bekas jerawat.
Gunakan kain lembut untuk membersihkan keseluruhan wajah. Jangan lupa pada area rahang dan leher, serta di belakang telinga. Hindari tekanan yang berlebihan saat membersihkan wajah, agar bekas jerawat tak kembali meradang. 

2. Cuci wajah

Setelah membersihkan makeup, skincare selanjutnya untuk menghilangkan bekas jerawat adalah dengan mencuci wajah. Rutinitas sederhana ini memberikan manfaat optimal untuk menjaga kesehatan kulit wajah. 
Penelitian dari Pediatric Dermatology mengungkapkan, rutinitas mencuci wajah berpengaruh signifikan terhadap kesehatan kulit wajah. Studi ini dipantau selama 6 minggu. 
Peneliti menemukan jerawat timbul lebih banyak pada partisipan yang hanya mencuci wajahnya sekali saja dalam sehari. Sementara partisipan yang mencuci wajah dua kali sehari dapat meminimalkan jerawat.
Cucilah wajah secara lembut. Jangan gunakan sabun batang, tetapi pilih facial wash dengan kandungan asam salisilat, asam glikolat, asam laktat, atau enzim dari buah-buahan.
Saat membersihkan wajah, gunakan air suam-suam kuku, sehingga bekas jerawat bisa terhindar dari iritasi. Penggunaan air hangat dalam membilas wajah bisa memicu iritasi.

3. Gunakan toner

Mungkin saja sebagian orang melewatkan rutinitas ini. Mengaplikasikan toner adalah salah satu skincare routine malam untuk membantu menghilangkan bekas jerawat. 
Toner dapat membantu mengurangi sisa-sisa minyak atau sebum. Karena fungsinya tersebut, toner mampu membantu menghilangkan komedo dan kemerahan. Anda bisa memilih toner yang melembabkan jika sedang menggunakan obat-obatan untuk jerawat agar kulit tidak kering.
Gunakan kapas untuk mengaplikasikan toner, lalu usapkan pada keseluruhan area wajah. Terutama pada area T-zone yang sering mengeluarkan banyak minyak.

4. Aplikasikan gel penghilang bekas jerawat

Tutup rangkaian skincare malam dengan gel penghilang bekas jerawat. Anda bisa mengaplikasikan gel penghilang bekas jerawat setiap malam hari hingga noda tersamarkan. Pilih gel dengan kandungan niacinamide untuk menghilangkan bekas jerawat.
Niacinamide dapat mengatasi masalah hiperpigmentasi pada bekas jerawat. Komponen yang tergolong sebagai vitamin B3 ini dapat memberikan proteksi dengan mencegah pertumbuhan jerawat pada area bekas jerawat. Selain itu, niacinamide membantu menjaga kelembapan kulit.
Selain niacinamide, kandungan allium cepa dan mucopolysaccharide dapat membantu memperbaiki ketidakrataan kulit akibat bekas jerawat. Pilih juga kandungan pionin yang mampu menuntaskan bakteri penyebab jerawat.
Nah, kini Anda sudah tahu skincare malam hari yang dapat diterapkan untuk memaksimalkan hilangnya bekas jerawat. Lakukan langkah ini setiap malam dan lihat perbedaannya setelah beberapa minggu.

Rabu, 19 Februari 2020

5 Macam Penyakit Jantung yang Paling Sering Ditemui dan Gejalanya


Penyakit kardiovaskular, salah satunya penyakit jantung, masih menjadi ancaman dunia dan merupakan penyakit yang berperan utama sebagai penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia. Dilansir dari inaheart.org, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Setidaknya, 15 dari 1000 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung.
Meskipun menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia, tetapi masih banyak orang yang tidak mengetahui tentang penyakit jantung. Banyak orang masih menganggap enteng tentang penyakit ini. Padahal, penyakit jantung kini tidak hanya menyerang orang dengan usia lanjut tetapi penyakit ini bisa menyerang orang dengan usia produktif.
Penyakit jantung umumnya bisa dicegah dengan pola hidup sehat dan rajin berolahraga.

1. Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke jantung mengeras dan mengalami penyempitan. Biasanya kondisi ini dipicu oleh penumpukan kolesterol dan pembekuan darah di dalam arteri (aterosklerosis).
Penyempitan arteri inilah yang menyebabkan aliran darah dan oksigen ke jantung menjadi berkurang, akibatnya organ tersebut tidak dapat berfungsi normal.
Gejala Jantung Koroner
Gejala utama dari penyakit jantung koroner adalah:
  • Nyeri dada
Tekanan atau beban berat terasa menghinggapi dada, seperti seseorang berdiri di atas dada. Nyeri ini biasanya akan hilang dengan istirahat.
  • Sesak napas
Sesak napas timbul karena jantung gagal memompa darah ke seluruh tubuh.
  • Serangan jantung
Serangan jantung terjadi apabila terjadi blokade total dari arteri koroner.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi berupa serangan jantung.

2. Jantung Bawaan

Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan bentuk jantung yang diderita seseorang sejak lahir. Kelainan ini bisa terjadi pada dinding jantung, katup jantung, pembuluh darah di dekat jantung, atau kombinasi semua kelainan tersebut.
Penyakit jantung bawaan terjadi akibat gangguan proses perkembangan jantung pada janin. Belum diketahui apa yang menyebabkan gangguan tersebut, namun diduga ada kaitannya dengan faktor keturunan, konsumsi minuman keras, penggunaan obat tertentu selama hamil, atau infeksi saat trimester pertama kehamilan.
Gejala Penyakit Jantung Bawaan
Tanda dan gejala penyakit jantung bawaan umumnya timbul segera saat lahir atau dalam beberapa bulan awal kehidupan. Namun pada beberapa kasus, gejalanya baru terdeteksi saat penderita sudah mencapai usia remaja atau menjelang dewasa. Tanda dan gejala yang timbul dapat berupa:
  • Kulit abu-abu pucat atau biru (sianosis)
  • Pernapasan yang cepat
  • Pembengkakan pada tungkai, abdomen, dan area di sekitar mata
  • Sesak napas saat pemberian makanan, yang menyebabkan terjadinya pertambahan berat badan yang terhambat
Tanda dan gejala yang timbul pada anak yang lebih besar dapat berupa:
  • Mudah sesak napas saat berolahraga atau melakukan aktivitas
  • Mudah lelah saat berolahraga atau melakukan aktivitas
  • Hilang kesadaran saat berolahraga atau melakukan aktivitas
  • Pembengkakan pada tangan, pergelangan kaki, atau kaki

    3. Gagal Jantung

    Gagal jantung adalah kondisi jantung yang terlalu lemah untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Bila berlangsung dalam jangka panjang, gagal jantung dapat memicu komplikasi serius yakni henti jantung, edema paru, gagal hati, dan gagal ginjal.
    Gagal jantung adalah penyakit jantung yang berkembang perlahan-lahan secara bertahap. Kondisi ini biasanya diawali oleh adanya penyakit penyerta lain, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, diabetes, dan penyakit jantung bawaan.
    Gejala Gagal Jantung
    Beberapa tanda dan gejala yang umum diamati pada kondisi gagal jantung adalah:
    • Sesak napas, yang terutama terjadi setelah melakukan aktivitas
    • Merasa lelah pada sebagian besar waktu dan mudah merasa lelah saat melakukan aktivitas
    • Bengkak pada kaki dan pergelangan kaki
    • Penurunan kemampuan untuk beraktivitas
    • Bengkak pada bagian perut
    • Penurunan nafsu makan dan rasa mual
    • Kesulitan berkonsentrasi
    • Peningkatan rasa ingin berkemih pada malam hari

      4. Infeksi Jantung (Endokarditis)

      Endokarditis adalah infeksi pada jaringan ikat yang melapisi dinding dan katup jantung. Infeksi ini terjadi ketika kuman dari bagian tubuh lain, seperti mulut dan kulit, masuk ke dinding jantung melalui aliran darah.
      Bakteri atau jamur yang menyebabkan endokarditis bisa masuk melalui luka pada tubuh atau luka di mulut, pemasangan kateter, pemakaian jarum yang tidak steril untuk tato atau tindik, dan penggunaan NAPZA suntikan.
      Gejala Endokarditis
      Gejala pada endokarditis bisa saja tidak spesifik. Penderita dapat mengeluhkan adanya demam tanpa penyebab yang jelas. Beberapa tanda dan gejala yang umum diamati pada kondisi Endokarditis adalah:
      • Berbagai gangguan pada anatomi jantung sering kali sudah ada dan meningkatkan risiko seorang terkena endokarditis. Berbagai gangguan yang dimaksud seperti patent ductus arteriosus (PDA), ventricular septal defect (VCD), dan prolap katup mitral.
      • Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai murmur atau bunyi jantung tambahan. Timbulnya murmur menunjukkan adanya kerusakan katup. Katup jantung yang sering terkena adalah katup trikuspid.
      • Infeksi yang dapat menyebabkan gumpalan massa yang terdiri dari mikroorganisme, fibrin, dan trombosit.

        5. Aritmia

        Aritmia dikenal juga sebagai kelainan irama jantung. Agar dapat berfungsi dengan baik seperti pompa, jantung harus berdetak dengan teratur, sehingga pengisian dan pengosongan jantung terjadi secara efektif. Aritmia juga dialami oleh banyak orang dan berpotensi fatal, walaupun tidak pada semua kasus.
        Pada aritmia, impuls listrik yang mengoordinasi detak jantung tidak bekerja dengan baik. Akibatnya, muncul kelainan irama jantung, misalnya saja jantung berdetak terlalu cepat, terlalu pelan, atau tidak teratur.
        Gejala Aritmia
        Gejala aritmia sangat beragam. Sebagian penderita aritmia tidak merasakan gejala apapun. Bahkan, masalah aritmia bisa jadi diketahui secara tak sengaja saat pemeriksaan oleh dokter. Beberapa tanda dan gejala yang umum diamati pada kondisi aritmia adalah:
        • Merasa mudah lelah atau lemas
        • Pusing seperti melayang
        • Pingsan, kadang pingsan terjadi berulang
        • Jantung berdegup kencang
        • Nyeri dada
        • Sesak napas
        • Henti jantung mendadak

Senin, 17 Februari 2020

Klamidia: Penyebab, Gejala Pengobatan, dan Pencegahan

Klamidia: Penyebab, Gejala Pengobatan, dan Pencegahan

Chlamydia atau klamidia adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri bernama Chlamydia trachomatis. Penyakit ini dapat terjadi pada pria dan wanita di usia berapa pun, namun lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria.
Berdasarkan riset yang dihimpun Badan Kesehatan Dunia (WHO) dari seluruh dunia, menyebutkan bahwa telah terjadi sekitar 127 juta kasus klamidia baru pada wanita dan pria berusia 15-49 tahun pada 2016. Sementara penyakit seksual lainnya, yaitu 6,3 juta kasus sifilis, 86 juta kasus gonore, dan 156 juta kasus trikomoniasis.

Penyebab Klamidia

Klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis, yang menginfeksi penis, vagina, leher rahim, uretra, anus, mata, dan tenggorokan, ini dapat menyebabkan kerusakan serius dan terkadang permanen pada sistem reproduksi.
Infeksi klamidia dapat ditularkan dengan beberapa cara, di antaranya:

1. Kontak Seksual

Bakteri Chlamydia trachomatis biasanya menular melalui hubungan seksual secara vaginal, oral dan anal dari orang yang terinfeksi.

2. Kontak Kelamin (tanpa penetrasi)

Klamidia dapat tertular melalui kontak antar-kelamin atau tanpa penetrasi, terutama pada wanita. Penularan dapat melalui cairan pra ejakulasi pada pria, yang mengandung bakteri Chlamydia trachomatis. 

3. Ibu Hamil yang Terinfeksi

Ibu hamil yang terinfeksi dapat menularkan kepada bayinya saat melahirkan, ini mengakibatkan pneumonia dan  infeksi mata yang serius pada si kecil. Jika ibu hamil terinfeksi klamidia, biasanya memerlukan tes 3 sampai 4 minggu setelah perawatan untuk memastikan infeksi belum kembali.

4. Tidak Menyadari Penyakit

Penyakit kelamin ini mungkin tidak disadari penderitanya karena banyak orang tidak mengalami tanda-tanda dan gejala, seperti nyeri pada kelamin atau keluarnya cairan pada vagina atau penis. Karena ketidaktahuan inilah dapat menularkan. 
Selain penyebab klamidia di atas, penyakit ini dapat ditularkan melalui:
  • Menyentuh permukaan yang telah disentuh atau terkena percikan batuk atau bersin oleh orang yang terinfeksi.
  • Berada di dekat dan menghirup udara yang terkontaminasi percikan batuk atau bersin orang yang terinfeksi.
  • Kontak dengan kloset duduk yang telah digunakan oleh orang yang terinfeksi (terutama toilet umum).
  • Sauna bersama dengan orang yang terinfeksi.
  • Berenang dalam satu kolam dengan orang yang terinfeksi.

Faktor Risiko

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko klamidia termasuk:
  • Aktif secara seksual sebelum usia 25 tahun.
  • Memiliki banyak pasangan seks dalam setahun terakhir.
  • Tidak menggunakan kondom secara konsisten saat berhubungan seks dengan pasangan yang berisiko.
  • Memiliki riwayat infeksi menular seksual sebelumnya.

Gejala Klamidia

Telah disinggung sebelumnya, tidak mudah mengetahui apakah Anda terinfeksi klamidia karena gejalanya tidak selalu tampak jelas. Tetapi ketika diketahui, ciri-ciri klamidia biasanya terlihat dalam satu sampai tiga minggu setelah terkena bakteri Chlamydia trachomatis.
Gejala klamidia pada wanita:
  • Nyeri perut disertai demam
  • Pendarahan diluar siklus menstruasi 
  • Haid yang menyakitkan
  • Keputihan yang tidak normal dan mungkin berbau
  • Rasa sakit saat berhubungan seks
  • Gatal atau sensasi terbakar di dalam atau di sekitar vagina
  • Nyeri saat buang air kecil 
Gejala klamidia pada pria:
  • Buang air kecil yang menyakitkan
  • Mengeluarkan cairan bening atau keruh dari ujung penis
  • Sensasi terbakar dan gatal di sekitar lubang penis
  • Nyeri dan bengkak di sekitar testis

Kapan Harus ke Dokter?

Bila Anda atau pasangan mengeluarkan cairan dari vagina, penis dan dubur, atau sakit saat buang air kecil, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dokter mungkin akan meresepkan antibiotik untuk meredakan ciri-ciri klamidia.

Komplikasi

Bila tidak segera diobati ketika mengalami gejala awal dan didiagnosis penyakit ini, klamidia dapat menyebabkan komplikasi, di antaranya:

1. Infeksi Menular Seksual Lainnya

Orang yang menderita klamidia berisiko lebih tinggi untuk menderita infeksi menular seksual lainnya, seperti gonore dan HIV, virus penyebab AIDS.

2. Penyakit Radang Panggul

Pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang panggul adalah infeksi rahim dan saluran tuba yang menyebabkan nyeri panggul dan demam. Infeksi yang parah mungkin diperlukan rawat inap untuk mendapatkan antibiotik intravena. PID dapat merusak saluran tuba, indung telur dan rahim, termasuk leher rahim.

3. Epididimitis

Klamidia dapat menyebabkan peradangan pada epididimitis, saluran di bagian belakang testis yang membawa sperma dari testis ke uretra. Infeksi ini dapat menyebabkan demam, pembengkakan, dan nyeri skrotum.

4. Infeksi Kelenjar Prostat

Organisme klamidia dapat menjalar menuju kelenjar prostat pria. Infeksi kelenjar prostat dapat menyebabkan demam dan menggigil, nyeri selama atau setelah berhubungan seks, buang air kecil terasa menyakitkan, dan nyeri punggung bagian bawah.

5. Infeksi pada Bayi Baru Lahir

Infeksi klamidia dapat menular dari saluran vagina ke anak selama persalinan, yang menyebabkan pneumonia atau infeksi mata yang serius.

6. Artritis Reaktif

Penderita klamidia berisiko lebih tinggi terkena arthritis reaktif, yang juga dikenal sebagai sindrom Reiter. Kondisi ini biasanya memengaruhi sendi, mata, dan uretra, tabung yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh.

7. Infertilitas

Klamidia yang tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala dapat menyebabkan jaringan parut dan obstruksi pada tuba falopi, yang dapat membuat wanita tidak dapat memiliki keturunan alias mandul.

Diagnosis

Diagnosis mencakup pemeriksaan fisik untuk mencari adanya gejala fisik seperti keputihan, dan juga pengambilan sampel dari penis, leher rahim, uretra, tenggorokan, dubur, atau sampel urine.

Skrining Klamidia

Infeksi klamidia biasanya tidak menunjukkan gejala, untuk itu dokter mungkin menyarankan skrining untuk beberapa orang. Skrining klamidia ini disarankan untuk:
  • Wanita di bawah 25 tahun
  • Wanita hamil
  • Pria dan wanita yang berisiko tinggi
Wanita dapat menjalani prosedur ini di rumah atau di laboratorium, baik dengan sampel urine atau dengan mengambil sampel dari vagina bagian bawah. Kapas ditaruh dalam wadah dan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan. Sementara untuk pria, biasanya melalui tes urine.
Berkonsultasilah dengan dokter tentang cara terbaik untuk menjalani tes. Beberapa orang mungkin melakukan tes dubur atau tenggorokan, terutama bagi penderita HIV.

Pengobatan Klamidia

Penggunaan obat resep seperti antibiotik dapat mengobati klamidia secara efektif. Biasanya obat klamidia dalam bentuk pil. Setelah perawatan mungkin disarankan untuk tes berulang sekitar 3 sampai 4 bulan, tergantung pada faktor risiko.
Perawatan untuk klamidia meliputi:
  • Azithromycin: Pemberian obat klamidia ini hanya satu dosis.
  • Doxycycline: Biasanya minum pil selama 1 minggu.
Penting menghabiskan dosis untuk memastikan infeksi tidak kembali.
Tetapi, doxycycline dapat memengaruhi perkembangan tulang dan gigi bayi. Sedangkan azithromycin terbukti aman dan efektif.
Sementara pada beberapa penderita penyakit ini, salah satunya ibu hamil mungkin diberikan antibiotik alternatif yang disarankan, termasuk:
  • Erythromycin
  • Levofloxacin
  • Ofloxacin
Beberapa pasien yang mungkin mengalami efek samping setelah minum antibiotik, di antaranya diare, sakit perut, masalah pencernaan, dan mual. Sementara pasien yang menggunakan doxycycline mungkin mengalami ruam kulit jika terpapar sinar matahari.

Pencegahan Klamidia

Cara yang paling efektif mencegah infeksi Chlamydia trachomatis adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual jika tanpa mengikuti pencegahan berikut:

1. Batasi Jumlah Pasangan Seks

Memiliki banyak pasangan seks dapat meningkatkan risiko tertular klamidia dan infeksi menular seksual lainnya. Oleh karena itu, batasilah jumlah pasangan seks Anda. 

2. Menggunakan Kondom

Gunakanlah kondom berbahan lateks untuk pria atau kondom poliuretan untuk wanita, selama melakukan hubungan seksual. Kondom yang digunakan dengan benar setiap kali berhubungan seksual dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko infeksi.

3. Hindari Douching

Untuk wanita, douching (mencuci vagina dengan menyemprotkan air dan cairan khusus) tidak dianjurkan karena mengurangi jumlah bakteri baik dalam vagina, yang dapat meningkatkan risiko infeksi.

4. Melakukan Skrining secara Rutin

Jika aktif secara seksual, terutama jika Anda memiliki banyak pasangan, konsultasikan dengan dokter tentang seberapa sering Anda harus diskrining untuk klamidia dan infeksi menular seksual lainnya.